haji….??? niat dulu…..!!!
Allah memerintahkan umatNya untuk melaksanakan ibadah haji satu kali seumur hidup bagi yang mampu. Kata mampu dalam ayat ini harus diartikan terhadap seluruh aspek. Mulai mampu materi, fisik maupun psikis, dan ilmu yang tidak kalah penting.
sedari kecil selalu terbayang nikmatnya melakukan perjalanan haji karena banyak mendengar kisah-kisah haji dari orang yg telah melaksanakannya
Menginjak usia dewasa…terus dan terus terbayang suasana tersebut. Bahkan jika melihat konvoi bis rombongan para calon haji berangkat, air mata tidak terasa menetes dipipiku. Sampai suatu saat ketika di surabaya sering diminta mengisi pengajian ibu-ibu yang akan berangkat haji, terlintas dalam pikiran…kapan….saya dapat memenuhi panggilan tersebut.
Keinginan haji akhirnya kusampaikan pada suamiku, dengan jawaban sebuah pertanyaan darinya, emang umi sudah niat haji, katanya. Spontan dong kujawab, yaiyalah…..dari dulu kale….!!! Cukup disitu pembahasan soal niat haji, tidak pernah dibahas lagi. Tanpa terasa setiap tahun menjelang keberangkatan haji, terlebih melihat beberapa keluargaku yang berangkat semakin mendesak keinginan tersebut. Setiap mengantar teman, saudara atau siapapun yang akan berangkat haji, selalu dan selalu keluar deras air mata, sudah bukan menetes lagi.
Karena semakin besarnya hasrat tersebut, kuulang lagi ungkapan yang pernah disampaikan pada suami beberapa tahun sebelumnya. Jawaban suamipun masih sama seperti dulu. Karena jawaban suami selalu itu-itu lagi, akhirnya membuat diriku penasaran, karena niatku rasanya sudah sejak dulu ada untuk melaksanakan haji, tapi ko suami masih meragukan niat suciku itu.
Akhirnya dimulailah pembahasan niat haji itu dengan serius. Barulah kufahami apa yang dimaksud suamiku. Ternyata untuk sebuah niat, tidak cukup hanya mau dan mau, tanpa berikrar dalam hati maupun secara lisan. Akupun memulai khusu’ dan serius meniatkan dalam hati dan mengikrarkan diri serta memohon kemudahan agar dapat ,melaksanakan haji maksimal diusiaku 40 tahun, agar fisikku masih kuat, penyerapan ilmu masih mudah dan secara materipun belum terlalu banyak pengeluaran besar.
Berbekal niat yang ikhlas, usaha nyata dengan membuka tabungan haji di salah satu bank, kemudahan mulai bermunculan diawali tawaran pinjaman dari adik iparku. Saat itu adiku menawarkan agar segera melunasi tabungan supaya bisa berangkat tahun depan (2004), karena dia dan saudaraku yang lain akan berangkat juga pada tahun yang sama.
Rasa ragu sempat terlintas, khawatir tidak bisa membayar pinjaman tersebut. Tapi…rencana Allah lain. Tanpa diduga, kemudahan terus dan terus kudapat untuk melengkapi kekurangannya. Bahkan suamiku yang semula tidak akan ikut berangkat (karena sudah berangkat 20 tahun sebelumnya), alhamdulillah bisa berangkat juga mendampingiku. Lengkaplah kebahagiaanku, karena bisa melaksanakan haji dengan orang yang sangat kucintai bersama empat orang adik dan iparku serta dua orang kakakku pada usia 40 tahun sesuai niat yang kuucapkan.
Niat yang ikhlas, usaha nyata, disertai do’a yang khusyu…..Allah membuktikan semua janjiNya melalui pernyataan suamiku. Ya Allah….terimakasih atas semua nikmat yang Engkau berikan pada kami……. Kami ingin bersungkur di tempatMu yang suci….seraya berucap syukur dan permohonan ampun padaMu, atas segala dosa yang selalu kami perbuat, alunan-alunan ayat-ayatMu senantiasa terbayang menusuk sanubariku terdalam membuat seluruh badanku bergetar penuh kenikmatan.
Niat….kata tersebut selalu menjadi salah satu rukun dalam setiap ibadah yang akan dilakukan. Ada yang harus dikeraskan, ada yang tidak. Tapi, tetap niat itu harus ada untuk memulai seluruh aktifitas hidup manusia.
April 10th, 2008 at 7:59 am
Umii… Kelak kita niatkan dengan kuat lagi berangkat ke tanah suci bersama sekeluarga… Nda pengen dibimbing lamngsung ma Abi dan Umi…
Emang Umi ku inih… Gak pernah berhenti ngasih inspirasi buat Nda…