Parenting
Allah menciptakan manusia ke dunia untuk menjadi khalifah fil ard. Kemampuan seseorang untuk menjadi khalifah (arti sempit atau luas) tergantung pada orang tuanya, karena pada hakekatnya manusia terlahir dalam keadaan fitrah. Orang tuanyalah yang akan menjadikannya dia nasrani, yahudi atau majusi.
Pernahkah kita memikirkan akan dijadikan apa jika pada waktunya nanti jadi seorang ibu ? Kalau kita simak surat An Nisa dijelaskan bahwa sudah seharusnya kita merasa khawatir meninggalkan keturunan yang lemah.(bisa lemah ilmu pengetahuannya, fisiknya, atau agamanya) Untuk mengantisipasi kekhawatiran tersebut, artinya harus dipersiapkan beberapa teknik atau metode dalam mendidik anak, mulai dari awal mencari pasangan hidup, memproses pertemuan sel telur dan sperma, masa kehamilan dan terakhir tentunya saat anak tersebut sudah terlahir.
Sebelum anak terlahir barangkali mempersiapkannya tidak sesulit mendidik atau mengasuh saat anak itu telah hadir. Karena bila anak itu telah ada, berbagai rintangan sangat banyak, baik dari internal maupun eksternal.
Kita tentu menyadari bahwa setiap manusia itu unik, satu sama lain tidak dapat disamakan, sekalipun dari orang tua yang sama. Rasulullah mengajarkan dan memberikan contoh kepada kita dalam mendidik dan mengasuh anak. Yang pertama harus kita sadari bahwa setiap anak adalah beda, sehingga langkah awal yang dilakukan adalah mengenali anak lebih dekat untuk mengetahui karakter yang dimilikinya. Dengan keunikan tersebut, maka metode yang diberikanpun tidak bisa sama. Contoh yang saya alami, ketika mendiamkan anak yang sedang marah pada anakku yang sulung berhasil, saya coba diterapkan pada dua adiknya dan berhasil juga, ternyata untuk anak keempat dan kelima tidak bisa dilakukan. Saya menggendong dan memeluk erat anak yang sedang marah sambil melontarkan senyuman dan menyapa dengan kata ada apa nak…?? terlontar jawaban dari mereka walau berbeda dari ketiga anak, namun intinya mereka memahami dan merasa diperhatikan sehingga reda marahnya.
Ketika memberlakukan hal tersebut pada anak ke empat, dia malah semakin keras marahnya, sementara ketika menerapkan pada anak kelima, dia meronta turun dari gendongan dan melepaskan dari pelukan sambil berbisik; pasti umi mau marahin aku,ya…demikian katanya.
Contoh lain ketika saya mengajarkan membaca pada mereka, juga mengalami hal yang sama, tidak bisa mengajarkan dengan metode yang sama, sehingga mendorong saya untuk terus mencari metode lain yang efektif.
Metode kedua ialah dengan cara memberikan contoh terlebih dahulu seperti yang dilakukan Rasulullah. Kita tidak bisa menyuruh anak belajar jika kitanya malah asyik nonton tv misalnya. tetapi kita harus memberikan contoh pada mereka bahwa kitapun melakukan hal yang sama. Jadi keteladanan harus diutamakan, sehingga anak memiliki anutan yang harus diikuti.
Metode selanjutnya ialah dengan memberikan reward dan punishment pada mereka, namun jangan diartikan dalam wujud materi semata. Tapi bisa diberikan dalam bentuk perhatian, belaian, penghargaan atau pujian atau ungkapan dengan dua patah kata ; "anakku hebat!!
Proses pembiasaan merupakan cara lain yang dilakukan Rasulullah dalam mendidik putra-putrinya. Saya memahami proses pembiasaan ini ialah dengan mengajarkan apapun yang baik pada anak sekalipun mereka belum mampu memahaminya, sehingga anak terus mengikuti kebiasaan tersebut. kebiasaan yang baik bila dilakukan berulang akan terus terekam dan pada akhirnya menjadi karakter. Dengan demikian pola pembiasaan atau membudayakan suatu kegiatan positif secara teori sangat baik dilakukan, dan hal itu telah dicontohkan oleh nabi kita. Satu hal yang menjadi kebiasaan kita ialah membedakan perlakukan terhadap anak berdasarkan posisi anak dalam keluarga. Misalnya jika terjadi perselisihan antara adik peling kecil dengan kakaknya, kadangkala orang tua secara otomatis membela si bungsu, tanpa menanyakan permasalahan yang sebenarnya. Atau antara anak laki-laki dan permpuan. Anaknya yang laki-laki tidak pernah diminta bantuan untuk melakukan pekerjaan rumah tangga, atau anaknya yang perempuan dilarang keras main layangan atau sepak bola. Sehingga perlakuan tersebut langsung dirasakan anak yang akibatnya anak menyerap semua pembiasaan yang dilakukan orang tuanya dan mereka memberlakukan pada anaknya nanti.
Pada akhir semua yang kita lakukan tentu harus dilakukan dengan penuh kasih sayang dan keikhlasan sehingga akan terasa melekat pada diri anak sebagai bentuk perhatian dari orang yang mencintainya.
Dengan menulis ini, umi mengevaluasi diri, apakah hal tersebut masih umi lakukan pada kelima anak umi….??? kadangkala ditengah kesibukan, kepenatan menghadapi berbagai masalah pekerjaan, semua yang sudah dilakukan sebelumnya tidak terulang apalagi meningkat lebih baik. Tapi malah sebaliknya…..maafkan umi anak-anaku….umi sangat menyayangi dan mencintai kalian semua.